Dari Perkumpulan : Seek first to understand then to be understood


Judul diatas adalah salah satu dari 7 habits yang sedari masa putih abu-abu kukenal.

Memang di sekolah waktu itu lekat sekali dengan pengamalan dan penghafalan habits itu. Sampai-sampai dinyanyikan dalam berbagai situasi. Bahkan ditulis di dinding sekolah, persis pada dinding dekat koridor yang merupakan jalan umum yang sangat fleksibel untuk bisa dibaca oleh orang yang melewati koridor tersebut. Poin ini juga pernah menjadi topik ketika saya diminta sharing di sebuah perkumpulan temanku.

Eh ini sebenarnya efek “gak enak” menolak ajakan saja. Kala itu temanku beberapa kali menghubungi, bahkan untuk ajakan pertama, saya mencari alasan untuk menolaknya. Beberapa hari berikutnya, ia kembali menghubungi, tapi saya tetap gak bisa (benar-benar ada jadwal lain). Kemudian diajakan berikutnya, “bimbang” juga rasanya membaca pesan dari dia. Jago sekali dia membujukku kala itu. Saya menolaknya bukan tanpa sebab. Saya saja masih butuh banyak belajar, kok diminta sharing. Itulah alasan klasik yang ada di otakku. Namun, berkat dukungan para Queen waktu itu, saya mencoba memberanikan diri menerima tawaran tersebut.

Sebenarnya bukan hal baru ketika sekedar bercerita di depan lingkaran kecil. Karena setiap minggunya saya sudah terjadwal melakukan hal tersebut. Sebagai sebuah tuntutan, yang bagiku cukup menggerakan untuk lebih banyak berlajar lagi. Satu hal yang membuat ragu. Ini tawarannya bukan di fakultasku. Bukan juga berceloteh depan adik-adik atau teman-teman yang sudah kukenal sebelumnya. Tempat baru, orang baru, pastinya suasana baru. Eh kok jadi bahas ini Rein :”

Seek First to understand then to be undertsood. Saya mencoba memahami makna dari kalimat tersebut sesimpel-simpelnya. Ada tiga poin yang bisa saya detailkan, diantaranya :
1) Mendengarkan sebelum didengarkan (Listen before talk)
2) Mengerti sebelum dimengerti
3) Memahami sebelum dipahami

Kita coba bahas satu per satu ya temans. Tentang listen before talk. Saya memahami makna yang satu ini ketika dalam suatu rapat perkumpulan. Ada waktunya kita untuk mendengarkan dan ada juga waktunya kita yang didengarkan. Semua butuh waktu. Kita tak bisa terus-terusan berbicara di depan rapat tersebut. Karena bukan hanya ada kita yang dis ana. Bayangkan ketika semua orang yang ada dalam ruangan itu serentak berbicara. Berceloteh panjang lebar tentang apa saja yang ingin mereka bicarakan. Lantas siapa yang mendengarkan?

Tentu suasana rapat akan menjadi kacau.  Kemudian, kita juga perlu mendengarkan lebih banyak sebelum berbicara. Seseorang pernah berkata bahwa kita dikaruniakan dua telinga dan satu mulut. Ini artinya kita mesti lebih banyak mendengar ketimbang berbicara (terlebih ketika pembicaraa tersebut tak mengandung makna alias hanya cawa).

Selanjutnya tentang mengerti sebelum dimengerti. Ini nampaknya agak berkelanjutan dari poin sebelumnya bahwa kita harus mencoba mengerti orang lain terlebih dahulu sebelum dimengerti oleh orang lain. Mengerti maksud perkataan orang lain, mengerti kondisi mereka, mengerti apa yang menjadi beban mereka. Mengerti alasan mereka tidak mau mengikuti ajakan kita untuk kumpul rutin, misalnya. Dengan kita mengerti orang lain, secara tidak langsung. Orang lain bisa saja tergerak hatinya untuk mengerti kita juga. Jangan terbalik. Karena jikalau kita terus-terusan minta dimengerti. kemudian orang-orang pun minta dimengerti. Lantas siapa yang mau mengerti kita?

Poin terakhir ialah mengenai memahami sebelum dipahami. Ini merupakan tingkatan lebih tinggi. Memang terkesan sulit untuk bisa memahami sesuatu. Kadang memahami diri sendiri saja masih belum begitu bisa, apalagi memahami orang lain. Namun bagiku, tak peduli akan berhasil atau tidaknya kita memahami. Yang penting adalah seberapa besar usaha kita untuk memahami sesuatu tersebut. Tentunya dengan tujuan supaya suatu saat akan ada orang yang juga bisa memahami kita.

Dari ketiga poin di atas. Bisa disimpulkan bahwa semuanya mesti dimulai dari pribadi kita terlebih dahulu. Memulai dengan kata berimbuhan Me- kemudian barulah berujung dengan kata berawalan di-. Artinya kalau kita berusaha untuk memulai habits itu, orang lain pun juga akan begitu.

Nampaknya pepatah legendaris ini benar-benar terbukti. Apa yang kita tanam, itu pula yang akan kita tuai. Apa yang kita lakukan kepada orang lain. Begitupula orang lain akan memperlakukan kita.
Selamat memulai dari diri sendiri ya Temans :v


MLB, 02072020 {06:41}
Ps.  Hanya Repost. Ini termasuk salah satu judul dalam buku 45 Catatan Si Kecil Meniti Jalan Takdir 🙂

26 Comments

  1. Salah satu dari 7 habbits yang kebanyakan orang menyepelehkannya. Sebagai manusia kita hanya sering ingin di dengar tnpa mendengarkan. Seharusnya yaa jika ingin didengarkan, kita harus mendengarkan agar mengerti

    Suka

  2. Mantul sekali ini mbak, terkadang kita sudah menanam benih masih menemukan rumput liar yang menghambat tumbuhnya tanaman kita, sehingga harus di jaga tanaman kita, apalagi tidak sama sekali menanam benih bagaimana mau memanennya, lanjutkan mbak🙏

    Suka

  3. Wah keren, bener nih kalau mau didengar haru bisa mendengar karena hidup ini terdiri dari fua arah (tadinya aku udah ngetik panjang komennya, tapi kehapus 😦 tapi gitulah intinya)

    Suka

Tinggalkan sebuah Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s