Diposkan pada Mine

Satu Frekuensi


Ngomong-ngomong, judul tersebut ternyata adalah judul lagu dari Souljah dalam albumnya This is Souljah. Sebuah lagi dengan genre Reggae yang dirilis pada tahun 2014. Saya baru mengetahui hal ini semenit sebelum mulai mengetik di sini. Saya sempat iseng saja mencari di kolom pencarian tentang ide judul yang tiba-tiba muncul di benak saya. Alhasil, munculnya adalah demikian.

Ngomongin tentang satu frekuensi.Tentu saya tidak akan membahas tentang frekuensi dalam secara ilmu fisika pada Jendela curhat ini. Kamu tahu kan apa itu frekuensi? Biarkan saya menyalin artinya dari KBBI ke sini. Tunggu sekejap, akan saya tuliskan.

fre·ku·en·si /frékuénsi/ n 1 kekerapan: — denyut jantungnya tidak normal; 2 Ling jumlah pemakaian suatu unsur bahasa dl suatu teks atau rekaman; 3 Ling jumlah getaran gelombang suara per detik; 4 Kom jumlah getaran gelombang elektrik per detik pd gelombang elektromagnetik.

Hohoho. Lengkap ya arti kata “frekuensi”. Tapi bukan ini juga yang akan saya jabarkan di sini. Coba kita lihat makna frekuensi dalam arti lain. Sekejap, izinkan saya melirik beberapa sumber lain.

Dilansir dari sebuah artikel pada kompasiana.com, satu frekuensi itu bisa dikatakan satu pemikiran atau satu kesukaan atau simpelnya punya sesuatu yang sama. Ini kaitannya dalam konteks pertemanan ya, Fren. Nah inilah yang akan saya bahas pada curhat kali ini.

Setiap individu tentulah mempunyai sifat dan katakteristik yang beraneka. Namun, siapa bisa menyangka. Perbedaan inilah yang membuat lingkaran pertemanan makin asyik dirasa. Hal ini karena diantara banyaknya perbedaan, pastilah akan ada satu hal yang bisa disebut persamaan dalam lingkup pergaulan yang ada. Tidak mungkin tidak ada satupun hal (kecil) yang membuat individu sama. Pasti ada, kadang kita saja yang tidak menyadarinya. Kesamaan inilah yang saya sebut frekuensi. Tepatnya, satu frekuensi.

Contoh kecil saja. Beberapa waktu ini saya mengikuti 10 hari tantangan menulis dari Ruang Nulis. Saya adalah orang yang sedang (belajar)  menulis dipertemukan dengan mereka yang juga senang menulis. Bermula dari tagar yang mengiringi setiap postingan kami. Kemudian saling like dan comment, bahkan ada juga yang auto saling follow dan mengirim pesan pribadi di instagram a.k.a DM.  Hal ini secara tidak langsung telah membuat lingkaran pertemanan bertambah. Kita belum pernah bertegur sapa secara langsung, namun diobrolan dalam jaringan seakan nyambung dan tidak kehabisan ide dalam percakapan Online itu. Inilah yang saya maksud satu frekuensi. Punya satu kesamaan.

Kemudian, tentu kita sudah sering sekali mendengar kalimat. Orang baik akan bersama dengan yang baik, begitupun sebaliknya. Itu sebenarnya adalah kalimat yang maknanya bersumber dari kalamullah. Hanya saja dibuat sederhana agar mudah dipahami oleh kita sebagai manusia yang lemah. Saya juga memaknai kalimat tersebut sebagai bagian dari satu frekuensi. Bahwa orang baik akan didekatkan dengan mereka yang baik juga, yang satu frekuensi dengan mereka. Begitupun sebaliknya.

Contoh nyata. Saya bukanlah orang baik. Saya masih terus berproses untuk menjadi baik (menjadi baik versi Yang Kuasa tentunya). Dalam proses tersebut, ada saja mereka-mereka yang seolah menjadi perpanjangan tangan hadirnya Karunia Allah SWT.  Mereka-mereka yang juga sedang berproses menjadi baik. Lalu kita bersatu dalam suatu perkumpulan dan kita berproses bersama-sama di dalam sana. Salinh mengingatkan tatkala lupa. Saling menegur ketika salah. Saling mengapresiasi ketika ada yang pantas untuk dipuji. Begitulah caraNya. Mendekatkan manusia yang satu dengan yang lainnya dalam frekuensi yang sama.

Mungkin tidak hanya saya yang pernah merasakan hal serupa. Tentu kamu juga pernah kan Fren? Berada dalam suatu lingkaran pertemanan yang kamu merasa nyaman, betah, dan ya mungkin itu karena adanya frekuensi atau hal yang sama dengan dirimu.

Lalu, apa yang bisa dijadikan catatan dari Satu Frekuensi ini? Dua poin yang ingin saya catat ialah :

Teruslah berbenah.
Mengingat bahwa kita adalah makhluk yang lemah dan Yang Kuasa sudah jelas menyampaikan dalam kalamNya bahwa yang baik akan bersama dengan yang baik dan begitupun sebaliknya. Maka dari itu,  semoga saja dengan kita terus berbenah dalam hal yang baik, maka kita akan dipertemukan dengan mereka yang satu frekuensi dengan kita.  Baik itu dalam lingkup pertemanan, persahabatan, keluarga, masyarakat dan semacamnya. Sehingga kita bisa saling menguatkan di sana. Seseorang pernah berkata, ketika kita sedang berusaha menjadi baik, maka kita akan dipertemukan dengan orang yang baik, tempat yang baik, dan lingkungan yang baik. Percayalah.

Pandai-pandai memilih lingkar pergaulan
Hal ini tak lain karena ketika kita memasuki lingkaran yang tidak satu frekuensi sama kita. Akan membuat diri kita melemah dan tak berdaya. Misalnya begini. Si A orang yang suka Nulis (walau itu baru belajar). Tapi lingkungannya adalah Si B yang sukanya nonton bioskop. Tentu saja arah obrolan diantara keduanya akan berbeda. Atau bisa dikatakan “nggak bakal nyambung”. Nah, bisa jadi saat itu Si A sedang berada pada fase malas-malasnya. Karena tidak sefrekuensi, maka tak ada yang peduli dengan si A. Inilah yang membuat si A sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah dalam fase malas, nggak ada yang nambah semangat dia. Akhirnya ia makin lemah dan bisa saja akan membuatnya tak pernah menulis lagi dan berpindah haluan. Padahal basicnya adalah seorang penulis. Kalau hal ini benar-benar kejadian, bisa bahaya. Hehe

Ini masih mending kalau lingkar pergaulannya tergolong masih dalam koridor “baik”. Kalau sebaliknya nampah belibet deh urusannya wkwk


MLB, 04082020 (15:14)

#ILearn #Merangkai_Kata #500words #Day04_August